KEPEMIMPINAN DALAM KELOMPOK

PENDAHULUAN

Kelompok merupakan suatu sistem. Sebagai sistem dalam kelompok ada beberapa komponen yang tersusun dalam suatu struktur yang teratur. Struktur kelompok mengacu kepada bagaimana susunan kelompok tersebut, yang meliputi : jenis kelompok, tujuan kelompok, peranan anggota kelompok, pemimpin kelompok, aturan-aturan dasar kelompok, pokok-pokok pembicaraan yang akan didiskusikan dalam kelompok (Romlah, 1989 dalam Wibowo, 2005 : 105). Sehingga pemimpin kelompok merupakan komponen yang penting dalam suatu kelompok. Pemimpin dan kelompok mempunyai hubungan yang sangat erat. Peran seorang pemimpin penting bagi keseluruhan fungsi kelompok. Sebuah kelompok merupakan cerminan pemimpinnya. Hanya akan ada hasil yang bagus sesuai pemimpinnya. Hanya akan ada hasil yang bagus sesuai pemimpinnya, hasil yang bagus sesuai diri pemimpin itu sendiri.

Pemimpin kelompok memiliki pengaruh yang kuat dalam proses kelompok, tidak terkecuali dalam konseling atau terapi kelompok. Setiap konseling atau terapi merupakan suatu proses yang kompleks. Banyak faktor yang mempengaruhinya, antara lain faktor konselor atau terapis, metode yang digunakan dan karakteristik konseli yang dihadapinya (Prawistari, 1991 dalam Wibowo, 2005 : 105). Oleh karena itu peranan, fungsi, kepribadian dan ketrampilan pemimpin adalah sentral dalam proses teraupetik (penyembuhan), maka semua model teoritis mencurahkan banyak perhatiannya pada pemimpin (Corey, 1981 dalam Wibowo, 2005 : 106).
Konselor sebagai pemimpin kelompok merupakan salah satu komponen penting dalam konseling kelompok. Kepemimpinan kelompok dalam pelaksanaan konseling kelompok sangat penting maknanya. Pemimpin kelompok mempunyai pengaruh yang kuat dalam proses konseling kelompok, bukan saja harus mengarahkan perilaku anggota kelompok sesuai dengan kebutuhan, melainkan harus tanggap terhadap segala perubahan yang terjadi dalam kelompoknya sebagai akibat dari perkembangan kegiatan kelompok itu. Oleh karena itu, untuk dapat melaksanakan tugas, peranan dan fungsinya sebagai pemimpin kelompok, kepribadian dan ketrampilan konselor  adalah sentral dalam proses terapeutik, maka semua model teoritis mencurahkan banyak perhatian pada pemimpin kelompok.

A.    TUGAS-TUGAS PEMIMPIN KELOMPOK

Konselor sebagai pemimpin kelompok mempunyai tugas yang tidak ringan. Menurut yalom (1985 dalam Wibowo, 2005: 107) tugas-tugas pemimpin kelompok adalah :
1. Membuat dan mempertahankan kelompok
2. Membentuk budaya
3. Membentuk norma-norma

B.     GAYA KEPEMIMPINAN KELOMPOK
Gaya yang ditunjukkan seorang pemimpin kelompok mempunyai dampak yang langsung terhadap perilaku anggota kelompok. Pemimpin kelompok yang selalu menyatakan kepada anggota kelompokknya mengenai apa yang harus dikerjakan, akan dapat segera menyelesaikan tugasnya jika didukung oleh kemampuan fleksibilitas dan inovasi anggotanya. Pemimpin kelompok paling efektif adalah pemimpin kelompok yang serba bisa. Mengubah pola kepemimpinannya sesuai dengan maksud kelompok dan keanggotaannya.
1. Kepemimpinan interpersonal versus kepemimpinan intrapersonal
2. Kepemimpinan yang terpusat ke pemimpin versus kepemimpinan yang terpusat ke kelompok.
3. Gaya kepemimpinan
Memilih sebuah gaya kepemimpinan tergantung kepada banyak faktor, seperti kepribadian pemimpin dan tujuan kelompok tersebut. Lewin (dalam Wibowo, 2005 : 148) memperkenalkan tiga gaya dasar kepemimpinan, yaitu :
a. Gaya kepemimpinan otoriter
b. Gaya kepemimpinan demokratis
c. Gaya kepemimpinan laissez-faire

C.    IMPLEMENTASI KEPEMIMPINAN DALAM KONSELING KELOMPOK

1.      Fungsi Pemimpin Kelompok
Pemimpin kelompok yang efektif harus mampu untuk berfungsi dalam berbagai macam cara pada waktu yang berbeda, dan dapat memilih serta menggunakan berbagai macam ketrampilan yang tepat untuk tiap fase proses kelompok.
Bates et. al (1982, dalam Supriatna, 2004) menunjukkan empat fungsi utama yang perlu diperhatikan oleh pemimpin kelompok selama proses kelompok, yaitu :
1. Sebagai seorang direktur yang mengatur arus interaksi kelompok. Pemimpin harus membantu anggota menyadari perilaku-perilaku mana yang mendorong dan menghambat komunikasi. Pemimpin harus bertindak dengan cara proaktif dan reaktif untuk mencegah munculnya perilaku tertentu yang menghambat dan mendorong munculnya perilaku lain yang mendukung proses kelompok.
2. Sebagai seorang model
3. Sebagai katalis interaksional
4. Sebagai fasilitator
5. Mampu mengendalikan konflik

2.      Karakteristik Pemimpin Kelompok Efektif
Pemimpin kelompok dalam menjalankan profesinya, selain dilihat sebagai profesional dia juga dilihat sebagai pribadi.
1. Pemimpin kelompok sebagai pribadi
Corey (1981 dalam Wibowo 2005 : 118) mengemukakan beberapa ciri pribadi yang sangat berhubungan dengan kepemimpinan kelompok yang efektif :
  1. Kehadiran, dimana pemimpin harus hadir secara fisik dan emosional
  2. Kekuatan pribadi, yang meliputi kepercayaan diri dan kesadaran akan pengaruh seseorang pada orang lain
  3. Keberanian, konselor harus menunjukkan keberanian dalam interaksi mereka dengan anggota kelompok dan bahwa mereka tidak boleh bersembunyi dibelakang peranan khusus mereka sebagai konselor
  4. Kemampuan untuk mengkonfrontasi diri sendiri
  5. Kesadaran diri, merupakan hal yang berbarengan dengan kemauan untuk menghadapi diri sendiri.
  6. Kesungguhan/ketulusan
  7. Keaslian, keefektifan menuntut pemimpin menjadi seorang pribadi yang asli, yang nyata atau riil, kongruen dan jujur.
  8. Mengerti Identitas
  9. Keyakinan/kepercayaan dalam proses kelompok
  10. Kegairahan, pemimpin perlu menunjukkan bahwa mereka menyenangi pekerjaan mereka dan senang bersatu dengan kelompok-kelompok mereka.
  11. Daya cipta dan kreativitas, kesanggupan secara spontan menjadi kreatif dan memberikan kelompok ide-ide segar
  12. Daya tahan (stamina), sejak kelompok mulai berjalan pelan-pelan secara fisik dan psikologis, pemimpin perlu menemukan cara-cara agar tetap hidup seluruh bagian dari kelompok.
  13. Pemimpin kelompok sebagai seorang yang profesional
Keberhasilan kepemimpinan menghendaki ketrampilan-ketrampilan kepemimpinan kelompok yang spesifik dan penampilan yang sesuai pada fungsi-fungsi tertentu. Ketrampilan-ketrampilan kepemimpinan tersebut perlu dipelajari dan dipraktekkan, walaupun mereka tidak dapat dipisahkan dari kepribadian pemimpin (Corey, 1981 dalam Wibowo, 2005 : 111). Semua aspek kognitif dan afektif dari pemimpin akan nampak dalam ketrampilan yang diperlihatkannya dalam praktek. Lewat ketrampilannya tersebut akan terlihat keefektifannya sebagai pemimpin, gaya-gaya kepemimpinannya, dan peranannya sebagai pemimpin kelompok. Beberapa ketrampilan dasar yang perlu dikembangkan seorang pemimpin kelompok dalam kelompok konseling antara lain (jacobs, Harvill & Masson, 1994 dalam Wibowo, 2005  : 123) :
1. Aktif mendengar, memerlukan pendengaran terhadap isi, suara dab bahasa tubuh dari orang yang berbicara. Pemimpin yang terampil akan mendengar semua anggota kelompok pada saat yang sama dan bukan hanya kepada orang yang sedang berbicara.
2. Refleksi, yaitu mengulang kembali hal ini menunjukkan bahwa anda mengerti isi dan /atau perasaan dibelakangnya.
3. Menguraikan/menjelaskan pernyataan akan membantu anggota kelompok menjadi lebih sadar tentang apa yang sedang ia coba kemukakan. Hal ini penting untuk menjamin kembali komunikasi yang jelas dalam kelompok.  Ada beberapa teknik menguraikan yang mungkin bisa digunakan: penjelasan pernyataan, menyatakan kembali dan menyuruh orang lain untuk menjelaskan atau menguraikannya.
4. Meringkas, ketrampilan ini merupakan keharusan bagi pemimpin kelompok. Tanpa suatu ringkasan, anggota mungkin hanya akan menangkap sedikit dari pembicaraan yang telah dilakukan
5. Penjelasan singkat dan pemberian informasi, pemimpin yang baik harus memiliki hal-hal yang baik untuk disampaikan. Keberhasilan penjelasan singkat akan memungkinkan secara singkat memberikan ide-ide baru dan menarik
6. Mendorong dan mendukung, kemampuan ini penting untuk membantu anggota kelompok  berkaitan dengan kecemasan yang dialami ketika menghadapi situasi baru.
7. Mengatur suara, dimaksudkan untuk menunjukkan suasana hati pemimpin atas kelompok
8. Memperagakan dan mengungkapkan diri, Corey & corey (1987 dalam Wibowo, 2005 : 129) menyatakan bahwa salah satu cara terbaik untuk membina perilaku-perilaku yang diinginkan adalah dengan pemberian model perilaku-perilaku itu dalam kelompok. Gaya pemimpin tentang komunikasi yang efektif, kemampuan untuk mendengar dan mendorong kepada orang lain akan menjadikan model bagi anggota kelompok dengan berusaha menyamai atau melebihi.
9. Penggunaan mata, hal ini sangat penting saat memimpin kelompok. Pemimpin perlu sadar tentang bagaimana matanya dapat mengumpulkan/meliput informasi yang berharga, mendorong anggota-anggota untuk berbicara dan mungkin menghalangi anggota untuk berbicara.
3. Penggunaan Teori
Dalam kerja kelompok teori digunakan oleh pemimpin sebagai prinsip untuk mengarahkan kelompok. Pada dasarnya suatu teori adalah suatu cara mengorganisasikan apa yang diketahui tentang beberapa fenomena dalam rangka memperoleh seperangkat proposisi-proposisi yang saling berkaitan dan masuk akal tentang apa yang tidak diketahui. Lewin (1951) dan beberapa ahli lain (Gladding, 1990), menyatakan bahwa teori sangat esensial bagi praktisi yang kompeten. Meskipun demikian, peranan teori dalam kerja kelompok akan tergantung pada tipe kelompok, disamping keterhandalan yang telah teruji dari suatu teori yang digunakan oleh pemimpin kelompok. Manfaat teori dalam praktek kelompok antara lain: memberikan kerangka kerja konseptual, sebagai pedoman untuk merumuskan perilaku yang diharapkan, teori merupakan landasan bagi penelitian,  dengan menggunakan teori sebagai landasan kerja, para praktisi lebih mungkin mencapai kemajuan, teori dapat membantu para praktisi merumuskan pendekatan terhadap kelompok dan pengetahuan tentang suatu teori pada umumnya membantu pemimpin kelompok untuk merumuskan suatu pendekatan khusus untuk masing-masing anggota kelompok.
4.      Penggunaan Asisten atau Pembantu (Co-Leader)
Beberapa pemimpin konseling kelompok lebih senang kerja sendirian, dan beberapa pemimpin kelompok yang lain lebih senang menggunakan pembantu (ko-pemimpin) khusunya ketika mereka menangani kelompok-kelompok besar yang memiliki anggota lebih dari 12 orang, Ko-pemimpin adalah seorang profesional yang telah dilatih. Ketepatan penggunaan ko-pemimpin tergantung pada banyak faktor, termasuk didalamnya pertimbangan-pertimbangan ekonomi, ukuran kelompok dan kompabilitas (kesesuaian) pemimpin. Bagaimanapun penggunaan ko-pemimpin mengimplikasikan adanya kemanfaatan dan problem.
Keuntungan yang diperoleh dengan penggunaan ko-pemimpin kelompok adalah:
  1. Mudah menangani kelompok dalam situasi sulit
  2. Memberikan lebih banyak model
  3. Umpan balik
  4. Berbagi pengetahuan khusus
  5. Pertimbangan praktis
Sedangkan keterbatasan penggunaan ko-pemimpin dalam konseling kelompok adalah:
  1. Kurang adanya upaya yang terkoordinasi
  2. Terlalu banyak perhatian diberikan pada pemimpin
  3. Kompetisi
  4. Kolusi
Sumber:
Ibnu M & Noviyanti K D. 2011. Pendekatan Konseling Kelompok. Diktat Kuliah Prodi BK. FIP. IKIP PGRI Madiun



KISI – KISI P.MANAJEMEN

 Ds. Yoga

1. Sebutkan dan jelaskan 5 tipe dalam kepemimpinan?
2. Sebutkan 3 gaya dalam kepemimpinan manajemen? Menurut Anda gaya kepemimpinan mana yang cocok diterapkan di Indonesia !
3. Sebutkan dan jelaskan pencegahan dan pengelolaan Konflik !!
4. Sebutkan 8 penyebab terjadinya konflik ? Faktor mana yang paling dominan terjadinya konflik !!
5. Sebutkan teori motivasi menurut Douglas Mc Gregor? Menurut Anda apakah teori tersebut dapat diterapkan dalam setiap organisasi dan bagaimana kendalanya !!
6. Sebutkan 5 teori Kebutuhan menurut Abraham Haroldson Maslow
7. Sebutkan tujuan utama dari proses recruitment dan seleksi ?
8. Dalam hal Recruitment terdapat proses dalam memperkenalkan pegawai. Sebutkan dan jelaskan proses tersebut !

__________________________________________________________________________________________________________________

1. Sebutkan dan jelaskan 5 tipe dalam kepemimpinan


1. Tipe Otokratis.

Seorang pemimpin yang otokratis ialah pemimpin yang memiliki kriteria atau ciri sebagai berikut:
-Menganggap organisasi sebagai pemilik pribadi;
-Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi;
-Menganggap bawahan sebagai alat semata-mata;
-Tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat;
-Terlalu tergantung kepada kekuasaan formalnya;
-Dalam tindakan pengge-rakkannya sering memperguna-kan pendekatan yang mengandung unsur paksaan dan bersifat menghukum.

2. Tipe Militeristis

Perlu diperhatikan terlebih dahulu bahwa yang dimaksud dari seorang pemimpin tipe militerisme berbeda dengan seorang pemimpin organisasi militer. Seorang pemimpin yang bertipe militeristis ialah seorang pemimpin yang memiliki sifat-sifat berikut :
-Dalam menggerakan bawahan sistem perintah yang lebih sering dipergunakan;
-Dalam menggerakkan bawahan senang bergantung kepada pangkat dan jabatannya;
-Senang pada formalitas yang berlebih-lebihan; Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan;
-Sukar menerima kritikan dari bawahannya; Menggemari upacara-upacara untuk berbagai keadaan.

3. Tipe Paternalistis.

Seorang pemimpin yang tergolong sebagai pemimpin yang paternalistis ialah seorang yang memiliki ciri sebagai berikut :
-menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa; bersikap terlalu melindungi (overly protective);
-jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan;
-jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil inisiatif;
-jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan daya kreasi dan fantasinya; dan sering bersikap maha tahu.


4. Tipe Karismatik.

Hingga sekarang ini para ahli belum berhasil menemukan sebab-sebab mengapa seseorang pemimpin memiliki karisma. Umumnya diketahui bahwa pemimpin yang demikian mempunyai daya tarik yang amat besar dan karenanya pada umumnya mempunyai pengikut yang jumlahnya sangat besar, meskipun para pengikut itu sering pula tidak dapat menjelaskan mengapa mereka menjadi pengikut pemimpin itu. Karena kurangnya pengetahuan tentang sebab musabab seseorang menjadi pemimpin yang karismatik, maka sering hanya dikatakan bahwa pemimpin yang demikian diberkahi dengan kekuatan gaib (supra natural powers). Kekayaan, umur, kesehatan, profil tidak dapat dipergunakan sebagai kriteria untuk karisma. Gandhi bukanlah seorang yang kaya, Iskandar Zulkarnain bukanlah seorang yang fisik sehat, John F Kennedy adalah seorang pemimpin yang memiliki karisma meskipun umurnya masih muda pada waktu terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat. Mengenai profil, Gandhi tidak dapat digolongkan sebagai orang yang ‘ganteng”.

5. Tipe Demokratis.

Pengetahuan tentang kepemimpinan telah membuktikan bahwa tipe pemimpin yang demokratislah yang paling tepat untuk organisasi modern. Hal ini terjadi karena tipe kepemimpinan ini memiliki karakteristik sebagai berikut :

- dalam proses penggerakan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu adalah makhluk yang termulia di dunia;

- selalu berusaha mensinkronisasikan kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan dan tujuan pribadi dari pada bawahannya;

- senang menerima saran, pendapat, dan bahkan kritik dari bawahannya;

- selalu berusaha mengutamakan kerjasama dan teamwork dalam usaha mencapai tujuan;

- ikhlas memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada bawahannya untuk berbuat kesalahan yang kemudian diperbaiki agar bawahan itu tidak lagi berbuat kesalahan yang sama, tetapi lebih berani untuk berbuat kesalahan yang lain;

- selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses daripadanya; dan berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin.

Secara implisit tergambar bahwa untuk menjadi pemimpin tipe demokratis bukanlah hal yang mudah. Namun, karena pemimpin yang demikian adalah yang paling ideal, alangkah baiknya jika semua pemimpin berusaha menjadi seorang pemimpin yang demokratis.




2. Sebutkan 3 gaya dalam kepemimpinan manajemen? Menurut Anda gaya kepemimpinan mana yang cocok diterapkan di Indonesia !

1. Teori Genetis (Keturunan)
Inti dari teori menyatakan bahwa “Leader are born and nor made” (pemimpin itu dilahirkan (bakat) bukannya dibuat). Para penganut aliran teori ini mengetengahkan pendapatnya bahwa seorang pemimpin akan menjadi pemimpin karena ia telah dilahirkan dengan bakat kepemimpinan. Dalam keadaan yang bagaimanapun seseorang ditempatkan karena ia telah ditakdirkan menjadi pemimpin, sesekali kelak ia akan timbul sebagai pemimpin. Berbicara mengenai takdir, secara filosofis pandangan ini tergolong pada pandangan fasilitas atau determinitis.

2. Teori Sosial
Jika teori pertama di atas adalah teori yang ekstrim pada satu sisi, maka teori inipun merupakan ekstrim pada sisi lainnya. Inti aliran teori sosial ini ialah bahwa “Leader are made and not born” (pemimpin itu dibuat atau dididik bukannya kodrati). Jadi teori ini merupakan kebalikan inti teori genetika. Para penganut teori ini mengetengahkan pendapat yang mengatakan bahwa setiap orang bisa menjadi pemimpin apabila diberikan pendidikan dan pengalaman yang cukup.

3. Teori Ekologis.
Kedua teori yang ekstrim di atas tidak seluruhnya mengandung kebenaran, maka sebagai reaksi terhadap kedua teori tersebut timbullah aliran teori ketiga. Teori yang disebut teori ekologis ini pada intinya berarti bahwa seseorang hanya akan berhasil menjadi pemimpin yang baik apabila ia telah memiliki bakat kepemimpinan. Bakat tersebut kemudian dikembangkan melalui pendidikan yang teratur dan pengalaman yang memungkinkan untuk dikembangkan lebih lanjut.

Teori ini menggabungkan segi-segi positif dari kedua teori terdahulu sehingga dapat dikatakan merupakan teori yang paling mendekati kebenaran. Namun demikian, penelitian yang jauh lebih mendalam masih diperlukan untuk dapat mengatakan secara pasti apa saja faktor yang menyebabkan timbulnya sosok pemimpin yang baik.
Selain pendapat-pendapat yang menyatakan tentang timbulnya gaya kepemimpinan tersebut, Hersey dan Blanchard (1992) berpendapat bahwa gaya kepemimpinan pada dasarnya merupakan perwujudan dari tiga komponen, yaitu pemimpin itu sendiri, bawahan, serta situasi di mana proses kepemimpinan tersebut diwujudkan. Bertolak dari pemikiran tersebut, Hersey dan Blanchard (1992) mengajukan proposisi bahwa gaya kepemimpinan (k) merupakan suatu fungsi dari pimpinan (p), bawahan (b) dan situasi tertentu (s)., yang dapat dinotasikan sebagai : k = f (p, b, s).
Menurut Hersey dan Blanchard, pimpinan (p) adalah seseorang yang dapat mempengaruhi orang lain atau kelompok untuk melakukan unjuk kerja maksimum yang telah ditetapkan sesuai dengan tujuan organisasi. Organisasi akan berjalan dengan baik jika pimpinan mempunyai kecakapan dalam bidangnya, dan setiap pimpinan mempunyai keterampilan yang berbeda, seperti keterampilan teknis, manusiawi dan konseptual. Sedangkan bawahan adalah seorang atau sekelompok orang yang merupakan anggota dari suatu perkumpulan atau pengikut yang setiap saat siap melaksanakan perintah atau tugas yang telah disepakati bersama guna mencapai tujuan. Dalam suatu organisasi, bawahan mempunyai peranan yang sangat strategis, karena sukses tidaknya seseorang pimpinan bergantung kepada para pengikutnya ini. Oleh sebab itu, seorang pemimpinan dituntut untuk memilih bawahan dengan secermat mungkin.
Adapun situasi (s) menurut Hersey dan Blanchard adalah suatu keadaan yang kondusif, di mana seorang pimpinan berusaha pada saat-saat tertentu mempengaruhi perilaku orang lain agar dapat mengikuti kehendaknya dalam rangka mencapai tujuan bersama. Dalam satu situasi misalnya, tindakan pimpinan pada beberapa tahun yang lalu tentunya tidak sama dengan yang dilakukan pada saat sekarang, karena memang situasinya telah berlainan. Dengan demikian, ketiga unsur yang mempengaruhi gaya kepemimpinan tersebut, yaitu pimpinan, bawahan dan situasi merupakan unsur yang saling terkait satu dengan lainnya, dan akan menentukan tingkat keberhasilan kepemimpinan.


3.Sebutkan dan jelaskan pencegahan dan pengelolaan Konflik !!

    * Pencegahan Konflik, bertujuan untuk mencegah timbulnya konflik yang keras.
    * Pengelolaan Konflik, bertujuan untuk membatasi dan menghindari kekerasan dengan mendorong perubahan     perilaku positif bagi pihak-pihak yang terlibat.




4. Penyebab terjadinya konflik

    1. Perbedaan individu yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan.
    2. Perbedaan latar belakang kebudayaan
    3. Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok
    4. Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat


Penyebab terjadinya konflik secara umum





1. Konflik Nilai

Kebanyakan konflik terjadi karena perbedaan nilai. Nilai merupakan sesuatu yang menjadi dasar, pedoman, tempat setiap manusia menggantungkan pikiran, perasaan, dan tindakan. Yang termasuk dalam kategori ini adalah konflik yang bersumber pada perbedaan rasa percaya, keyakinan, bahkan ideologi atas apa yang diperebutkan.

2. Kurangnya Komunikasi

Kita tidak bisa menganggap sepele komunikasi antarmanusia karena konflik bisa terjadi hanya karena dua pihak kurang berkomunikasi. Kegagalan berkomunikasi karena dua pihak tidak dapat menyampaikan pikiran, perasaan, dan tindakan sehingga membuka jurang perbedaan informasi di antara mereka, dan hal semacam ini dapat mengakibatkan terjadinya konflik.

3. Kepemimpinan yang Kurang Efektif

Secara politis kepemimpinan yang baik adalah kepemimpinan yang kuat, adil, dan demokratis. Namun demikian, untuk mendapatkan pemimpin yang ideal tidah mudah. Konflik karena kepemimpinan yang tidak efektif ini banyak terjadi pada organisasi atau kehidupan bersama dalam suatu komunitas. Kepemimpinan yang kurang efektif ini mengakibatkan anggota masyarakat “mudah bergerak”.

4. Ketidakcocokan Peran

Konflik semacam ini bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. Ketidakcocokan peran terjadi karena ada dua pihak yang mempersepsikan secara sangat berbeda tentang peran mereka masing-masing.

5. Produktivitas Rendah

Konflik seringkali terjadi karena out put dan out come dari dua belah pihak atau lebih yang saling berhubungan kurang atau tidak mendapatkan keuntungan dari hubungan tersebut. Oleh karenanya muncul prasangka di antara mereka. Kesenjangan ekonomi di antara kelompok masyarakat, termasuk dalam konflik ini.

6. Perubahan Keseimbangan

Konflik ini terjadi karena ada perubahan keseimbangan dalam suatu masyarakat. Penyebabnya bisa karena faktor alam, maupun faktor sosial.

7. Konflik atau Masalah yang Belum Terpecahkan

Banyak pula konflik yang terjadi dalam masyarakat karena masalah terdahulu tidak terselesaikan. Tidak ada proses saling memaafkan dan saling mengampuni sehingga hal tersebut seperti api dalam sekam, yang sewaktu-waktu bisa berkobar.

Tujuh penyebab konflik di atas adalah penyebab yang sifatnya umum, dan sebenarnya masih bisa diperinci lebih detail lagi. Namun demikian, jika mencermati konflik-konflik yang terjadi khususnya masyarakat Indonesia akhir-akhir ini, bisa merunut, paling tidak ada salah satu penyebab seperti di atas. Dengan mengetahui penyebab terjadinya konflik bisa berharap bahwa konflik akan bisa dikelola, dan diselesaikan dengan baik.







5.Sebutkan teori motivasi menurut Douglas Mc Gregor? Menurut Anda apakah teori tersebut dapat diterapkan dalam setiap organisasi dan bagaimana kendalanya !!

- kebutuhan berprestasi: dorongan untuk melebihi, mencapai standar-standar, berusaha keras untuk berhasil.
- kebutuhan berkuasa: kebutuhan untuk membuat individu lain berperilaku sedemikian rupa sehingga mereka tidak akan berperilaku sebaliknya.
- kebutuhan berafiliasi: keinginan untuk menjalin suatu hubungan antarpersonal yang ramah dan akrab.
 

6.Sebutkan 5 teori Kebutuhan menurut Abraham Haroldson Maslow
    - Kebutuhan fisiologis atau dasar
    - Kebutuhan akan rasa aman
    - Kebutuhan untuk dicintai dan disayangi
    - Kebutuhan untuk dihargai
    - Kebutuhan untuk aktualisasi diri

7. Sebutkan tujuan utama dari proses recruitment dan seleksi ?

Tujuan utama dari proses rekrutmen dan seleksi adalah untuk mendapatkan orang yang tepat bagi suatu jabatan tertentu, sehingga orang tersebut mampu bekerja secara optimal dan dapat bertahan di perusahaan untuk waktu yang lama. Proses rekrutmen adalah suatu proses penerimaan calon tenaga kerja untuk memenuhi kebutuhan akan tenaga kerja (lowongan pekerjaan) pada suatu unit kerja dalam suatu organisasi atau perusahaan;

sedangkan proses seleksi adalah proses pemilihan calon tenaga kerja yang paling memenuhi syarat untuk mengisi lowongan pekerjaan. Dengan demikian, proses rekrutmen merupakan proses awal yang dilakukan dalam pencarian tenaga kerja, sedangkan proses seleksi terjadi setelah ada sejumlah calon karyawan yang mendaftar atau terdaftar melalui proses rekrutmen.


8. Dalam hal Recruitment terdapat proses dalam memperkenalkan pegawai. Sebutkan dan jelaskan proses tersebut !


-.Work-unit orientation :

    Membiasakan karyawan baru dengan tujuan unit
    Menjelaskan bagaimana pekerjaannya dapat memberikan kontribusi pada tujuan unit
    Memperkenalkan karyawan baru dengan rekan kerjanya

Download 

Definisi Proses Rekrutmen dan Seleksi

Tujuan utama dari proses rekrutmen dan seleksi adalah untuk mendapatkan orang yang tepat bagi suatu jabatan tertentu, sehingga orang tersebut mampu bekerja secara optimal dan dapat bertahan di perusahaan untuk waktu yang lama. Proses rekrutmen adalah suatu proses penerimaan calon tenaga kerja untuk memenuhi kebutuhan akan tenaga kerja (lowongan pekerjaan) pada suatu unit kerja dalam suatu organisasi atau perusahaan;
sedangkan proses seleksi adalah proses pemilihan calon tenaga kerja yang paling memenuhi syarat untuk mengisi lowongan pekerjaan. Dengan demikian, proses rekrutmen merupakan proses awal yang dilakukan dalam pencarian tenaga kerja, sedangkan proses seleksi terjadi setelah ada sejumlah calon karyawan yang mendaftar atau terdaftar melalui proses rekrutmen.
Tahap-tahap Proses Rekrutmen dan Seleksi
Proses pencarian calon karyawan untuk ditempatkan dalam suatu jabatan tertentu dalam suatu perusahaan atau organisasi, pada umumnya meliputi proses rekrutmen (pencarian calon karyawan) serta seleksi (pemilihan calon karyawan), yang secara terinci meliputi kegiatan di bawah ini :
1. Proses rekrutmen
- memasang iklan di berbagai media cetak, seperti koran, majalah, tabloid; atau di radio dan televisi
- pendekatan langsung ke sekolah, universitas, lembaga-lembaga pendidikan kejuruan atau pusat-pusat kursus
- para karyawannya sendiri yang akan mengajukan kenalan atau anggota keluarganya yang dapat mereka jamin ‘kebaikan’ kerjanya
- pencari kerja melamar sendiri di perusahaan-perusahaan.
2. Seleksi calon karyawan
- seleksi surat-surat lamaran
- wawancara awal
- ujian, psikotes, wawancara
- penilaian akhir
- pemberitahuan dan wawancara akhir
- penerimaan
Metode-metode PerekrutanMetode perekrutan akan berpengaruh besar terhadap banyaknya lamaran yang masuk ke dalam perusahaan. Metode perekrutan calon karyawan baru dibagi atas metode tertutup dan metode terbuka.
Metode Tertutup
Metode tertutup yaitu dimana perekrutan itu hanya diinformasikan kepada para karyawanatau orang-orang tertentu saja. Akibatnya lamaran yang masuk menjadi relatif sedikit,sehingga kesempatan untuk mendapatkan karyawan yang baik akan semakin sulit.
Metode Terbuka
Metode terbuka adalah dimana perekrutan itu diinformasikan secara luas denganmemasang iklan pada media massa baik cetak maupun elektronik, agar tersebar luas kemasyarakat. Dengan metode terbuka ini diharapkan banyak lamaran yang akan masuk,sehingga kesempatan untuk mendapatkan karyawan yang qualified menjadi lebih besar.
Kendala-kendala PerekrutanAgar proses perekrutan berhasil maka perusahaan perlu menyadari berbagai kendalayang bersumber dari ³organisasi, pelaksana perekrutan dan lingkungan eksternal´. Kendala-kendala yang dihadapi setiap perusahaan tidak sama, tetapi pada umumnya kendala-kendalaitu adalah:a.
Kebijaksanaan-kebijaksanaan organisasiBerbagai kebijaksanaan organisasi merupakan cermin utama atas berhasil atautidaknya perekrutan calon pegawai. Kebijaksanaan organisasi yang akan mempengaruhiperekrutan itu adalah:
Kebijaksanaan Kompensasi dan Kesejahteraan.Jika perusahaan dapat memberikan kompensasi dan kesejahteraan yang cukupbesar serta adil maka pelamar yang serius akan semakin banyak, tetapi sebaliknya jikagaji dan kesejahteraan rendah maka pelamar menjadi sedikit.
Kebijaksanaan Promosi Apabila kesempatan untuk promosi diberikan cukup luas maka pelamar yangserius semakin banyak, tetapi sebaliknya jika kesempatan untuk promosi sangat terbatas maka pelamar akan menjadi sedikit. Promosi merupakan idaman setiapkaryawan, karena dengan promosi berarti status dan pendapatan akan bertambahbesar.
Kebijaksanaan Status KaryawanJika status karyawan menjadi karyawan tetap/full-time maka pelamar semakinbanyak, tetapi jika status karyawannya honorer/harian/part-time maka pelamar akansemakin sedikit.
Kebijaksanaan Sumber Tenaga KerjaJika tenaga kerja yang akan diterima hanya bersumber dari tenaga kerja localmaka pelamar yang serius akan sedikit, tetapi sebaliknya bila tenaga kerja yang akanditerima bersumber dari seluruh Nusantara, maka pelamar akan semakin banyak.b.
Persyaratan-persyaratan jabatanSemakin banyak persyaratan yang harus dimiliki pelamar maka pelamar akan menjadisedikit, sebaliknya jika jumlah persyaratannya sedikit maka pelamarnya akan semakinbanyak.c.
Metode pelaksanaan perekrutanSemakin terbuka perekrutan maka pelamarnya akan semakin banyak, sebaliknyaapabila perekrutannya semakin tertutup maka pelamarnya semakin sedikit.d.
Kondisi pasar tenaga kerjaSemakin besar penawaran tenaga kerja maka akan semakin banyak pula pelamar yangserius. Tetapi sebaliknya jika penawaran tenaga kerja sedikit maka pelamarnya juga menjadisedikit.e.
Soliditas perusahaanSoliditas perusahaan dapat diartikan sebagai besarnya kepercayaan masyarakatterhadap perusahaan, misal; besarnya perusahaan tersebut. Jika soliditas perusahaan besar maka pelamar akan semakin banyak. Sebaliknya jika soliditas perusahaan rendah makapelamarnya akan semakin sedikit.
Kondisi-kondisi lingkungan eksternalJika kondisi perekonomian tumbuh dengan cepat dan saingannya juga banyak makapelamar akan sedikit, tetapi jika tingkat pertumbuhan perekonomian kecil/depresi, maka pelamarnya akan semakin banyak.

FAKTOR PENYEBAB KONFLIK DAN STRATEGI PENYELESAIAN KONFLIK


FAKTOR PENYEBAB KONFLIK
1. Perbedaan individu yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan.
Setiap manusia adalah individu yang unik. Artinya, setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial, sebab dalam menjalani hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya. Misalnya, ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman, tentu perasaan setiap warganya akan berbeda-beda. Ada yang merasa terganggu karena berisik, tetapi ada pula yang merasa terhibur.
2. Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda.
Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan pendirian kelompoknya. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat memicu konflik.
3. Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok.
Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda.
4. Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat.
Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak, perubahan tersebut dapat memicu terjadinya konflik sosial. Misalnya, pada masyarakat pedesaan yang mengalami proses industrialisasi yang mendadak akan memunculkan konflik sosial sebab nilai-nilai lama pada masyarakat tradisional yang biasanya bercorak pertanian secara cepat berubah menjadi nilai-nilai masyarakat industri. Nilai-nilai yang berubah itu seperti nilai kegotongroyongan berganti menjadi nilai kontrak kerja dengan upah yang disesuaikan menurut jenis pekerjaannya. Hubungan kekerabatan bergeser menjadi hubungan struktural yang disusun dalam organisasi formal perusahaan. Nilai-nilai kebersamaan berubah menjadi individualis dan nilai-nilai tentang pemanfaatan waktu yang cenderung tidak ketat berubah menjadi pembagian waktu yang tegas seperti jadwal kerja dan istirahat dalam dunia industri. Perubahan-perubahan ini, jika terjadi seara cepat atau mendadak, akan membuat kegoncangan proses-proses sosial di masyarakat, bahkan akan terjadi upaya penolakan terhadap semua bentuk perubahan karena dianggap mengacaukan tatanan kehiodupan masyarakat yang telah ada.
Asumsi setiap orang memiliki kecenderungan tertentu dalam menangani konflik.
Terdapat 5 kecenderungan:
• Penolakan: konflik menyebabkan tidak nyaman
• Kompetisi: konflik memunculkan pemenang
• Kompromi: ada kompromi & negosiasi dalam konflik untuk meminimalisasi kerugian
• Akomodasi: ada pengorbanan tujuan pribadi untuk mempertahankan hubungan
• Kolaborasi: mementingkan dukungan & kesadaran pihak lain untuk bekerja bersama-sama.

STRATEGI PENYELESAIAN KONFLIK
Pendekatan penyelesaian konflik oleh pemimpin dikategorikan dalam dua dimensi ialah kerjasama/tidak kerjasama dan tegas/tidak tegas. Dengan menggunakan kedua macam dimensi tersebut ada 5 macam pendekatan penyelesaian konflik ialah :
1. Kompetisi
Penyelesaian konflik yang menggambarkan satu pihak mengalahkan atau mengorbankan yang lain. Penyelesaian bentuk kompetisi dikenal dengan istilah win-lose orientation.
2. Akomodasi
Penyelesaian konflik yang menggambarkan kompetisi bayangan cermin yang memberikan keseluruhannya penyelesaian pada pihak lain tanpa ada usaha memperjuangkan tujuannya sendiri. Proses tersebut adalah taktik perdamaian.
3. Sharing
Suatu pendekatan penyelesaian kompromistis antara dominasi kelompok dan kelompok damai. Satu pihak memberi dan yang lkain menerima sesuatu. Kedua kelompok berpikiran moderat, tidak lengkap, tetapi memuaskan.
4. Kolaborasi
Bentuk usaha penyelesaian konflik yang memuaskan kedua belah pihak. Usaha ini adalah pendekatan pemecahan problem (problem-solving approach) yang memerlukan integrasi dari kedua pihak.
5. Penghindaran
Menyangkut ketidakpedulian dari kedua kelompok. Keadaaan ini menggambarkan penarikan kepentingan atau mengacuhkan kepentingan kelompok lain.

INTERAKSI WIN –WIN
Berpikir Menang-Menang merupakan sikap hidup, suatu kerangka berpikir yang menyatakan : “Saya dapat menang, dan demikian juga Anda, kita bisa menang”. Berpikir Menang-Menang merupakan dasar untuk dapat hidup berdampingan dengan orang lain. Berpikir Menang-Menang dimulai dengan kepercayaan bahwa kita adalah setara, tidak ada yang di bawah ataupun di atas orang lain. Hidup bukanlah kompetisi. Mungkin kita memang menjumpai bahwa dunia bisnis, sekolah, keluarga, olah raga adalah dunia yang penuh kompetisi, tetapi sebenarnya kita sendirilah yang menciptakan dunia kompetisi. Hidup sebenarnya adalah relasi dengan orang lain. Berpikir Menang-Menang bukanlah berpikir tentang Menang-Kalah, Kalah-Menang, atau pun Kalah –Kalah.
1. Win-Lose (Menang – Kalah).
Paradigma ini mengatakan jika “saya menang, anda kalah “. Dalam gaya ini seseorang cenderung menggunakan kekuasaan, jabatan, mandat, barang milik, atau kepribadian untuk mendapatkan apa yang diinginkan dengan mengorbankan orang lain. Dengan paradigma ini seseorang akan merasa berarti jika ia bisa menang dan orang lain kalah. Ia akan merasa terancam dan iri jika orang lain menang sebab ia berpikir jika orang lain menang pasti dirinya kalah. Jika menang pun sebenarnya ia diliputi rasa bersalah karena ia menganggap kemenangannya pasti mengorbankan orang lain. Pihak yang kalah pun akan menyimpan rasa kecewa, sakit hati, dan merasa diabaikan.
Sikap Menang-Kalah dapat muncul dalam bentuk :
Menggunakan orang lain , baik secara emosional atau pun fisik, untuk kepentingan diri.
Mencoba untuk berada di atas orang lain.
Menjelek-jelekkan orang lain supaya diri sendiri nampak baik.
Selalu mencoba memaksakan kehendak tanpa memperhatikan perasaan orang lain.
Iri dan dengki ketika orang lain berhasil
2. Lose-Win (Kalah – Menang).
Dalam gaya ini seseorang tidak mempunyai tuntutan, visi, dan harapan. Ia cenderung cepat menyenangkan atau memenuhi tuntutan orang lain. Mereka mencari kekuatan dari popularitas atau penerimaan. Karena paradigma ini lebih mementingkan popularitas dan penerimaan maka menang bukanlah yang utama. Akibatnya banyak perasaan yang terpendam dan tidak terungkapkan sehingga akan menyebabkan penyakit psikosomatik seperti sesak napas, saraf, gangguan sistem peredaran darah yang merupakan perwujudan dari kekecewaan dan kemarahan yang mendalam.
3. lose-Lose (Kalah – Kalah)
Biasanya terjadi jika orang yang bertemu sama-sama punya paradigma Menang-Kalah. Karena keduanya tidak bisa bernegosiasi secara sehat, maka mereka berprinsip jika tidak ada yang menang , lebih baik semuanya kalah. Mereka berpusat pada musuh, yang ada hanya perasaan dendam tanpa menyadari jika orang lain kalah dan dirinya kalah sama saja dengan bunuh diri.


4. Win (Menang)
Orang bermentalitas menang tidak harus menginginkan orang lain kalah. Yang penting adalah mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Orang bermentalitas menang menjadi egois dan akan mencapai tujuannya sendiri. Jika hal ini menjadi pola hidupnya maka ia tidak akan bisa akrab dengan orang lain, merasa kesepian, dan sulit kerja sama dalam tim.
5. Win-Win (Menang-Menang)
Menang-Menang adalah kerangka pikiran dan hati yang terus menerus mencari keuntungan bersama dalam semua interaksi. Menang-Menang berarti mengusahakan semua pihak merasa senang dan puas dengan pemecahan masalah atau keputusan yang diambil. Paradigma ini memandang kehidupan sebagai arena kerja sama bukan persaingan. Paradigma ini akan menimbulkan kepuasan pada kedua belah pihak dan akan meningkatkan kerja sama kreatif.
Mata Kuliah :
ALGORITMA

Materi Kuliah Algoritma dan Pemrograman I Semester Genap 2010/2011 :

1. Silabus
2. Pengantar Algoritma
- Pengertian Algoritma
- Alat-alat Bantu dalam menggambarkan Algoritma
- Mekanisme Pelaksanaan Algoritma oleh Pemroses
- Simbol-simbol Flowchart Program
3. Struktur Program, Variabel, Tipe Data dan Operator
- Struktur Program
- Variabel
- Tipe Data
- Operator
4. Struktur Kondisi - Percabangan
- Pernyataan if sederhana
- Pernyataan if ... else ...
- Pernyataan if bersarang (nested if)
- Pernyataan switch
5. Struktur Kendali Perulangan
- Pernyataan for
- Pernyataan while
- Pernyataan do ... while ...
6. Fungsi
- Bentuk umum fungsi
- Bahan Praktikum
7. Array
- Array Berdimensi Satu
- Array Berdimensi Dua
- Array Berdimensi Tiga